|
Ada yang tahu 9 Maret kemarin adalah Hari Musik Indonesia?
Yang jelas saya tidak tahu kalau tidak melihat berita di RCTI yang meliput soal pembajakan cakram padat dalam rangka hari musik. Mungkin karena memperingati hari itu jugalah yang mendorong majalah Rolling Stone menurunkan headline berjudul “Petaka Musik Indonesia”.
Entah ini hari musik yang ke berapa di republik ini, yang jelas isu yang diangkat basi. Lagi-lagi soal pembajakan dan lagi-lagi menuntut pemerintah bertindak dan lagi-lagi menyalahkan konsumen yang membeli barang bajakan.Hare gene harusnya bicara soal peningkatan kualitas musik Indonesia. Tak usahlah bicara soal kemajuan industri musik selama penyanyinya masih bernyanyi sengau, melafalkan “aku” tapi yang keluar “akyu” dan melafalkan “ini” tapi yang kedengaran “in-nyi”, dan menulis lirik tidak nyeni dan hanya bisa mengulang kata-kata buka topeng dan kamu ketahuan.
Jangan heran kalau pembajakan marak. Siapa yang mau bayar mahal untuk musik yang jelek? Siapa mau berinvestasi pada musisi yang tak peduli penggemar hidup susah? Setiap hari masyarakat dihujani promosi agar membeli album tapi uang melimpah yang masuk ke kantong penyanyi dan pelaku industri musik tak mengucur kembali ke masyarakat.
Pelaku industri sampai detik ini masih manja mengharapkan pemerintah memberantas bajakan tanpa mau kreatif mengembangkan bisnis yang tak bisa dibajak. Sejak era digital dimulai, seharusnya industri musik sudah mengambil ancang-ancang untuk era pembajakan yang digital pula.
Kalau sekarang masih berteriak-teriak soal pembajakan, kemana saja uang yang selama ini ada. Diinvestasikan kemana? Kenapa tidak untuk menyiapkan sebentuk perangkat anti pembajakan? Kenapa tidak investasi untuk pendidikan antipembajakan? Kenapa saya masih peduli pada kecerobohan pelaku industri yang tidur saat industri lain tengah mengumpulkan logistik menjelang musim petaka pembajakan.
Kecuali di Indonesia, dunia musik adalah dimensi yang penuh kreativitas maka sudah sepantasnya pula industri musik menjadi kreatif. Di hari musik ini harusnya mereka merenung dan mengonsep cetak biru dunia musik di masa mendatang.
Kalau masih mengandalkan selera rendah demi meraup keuntungan sebesar-besarnya. Kalau label masih mengadopsi penyanyi dan band busuk sematta-matta karena mereka banyak penggemarnya. Maka tidak usahlah ada hari musik tak peduli berapa banyak topeng yang dibuka, tak peduli berapa banyak orang yang ketahuan, tak peduli berapa banyak penyanyi yang akan kanker hidung karena bernyanyi dengan suara nasal.
Salah besar kalau Rolling Stone menyebut petaka musik Indonesia itu pembajakan dan jatuhnya penjualan album. Petaka terbesar adalah penyanyi dan industri musik yang berbuat semaunya tanpa mendidik masyarakat tentang apresiasi musik yang berkualitas.
Sumber: http://8zone.wordpress.com

