Matinya Musik Indonesia

Bukannya bermaksud menakuti-nakuti atau memanas-manasi suasana, tapi itulah yang terjadi pada permusikan Indonesia. Walaupun mendatangkan banyak keuntungan, tapi ternyata ada beberapa musisi (atau bisa dibilang band pendatang baru) yang boleh dibilang layu sebelum berkembang.

Yup, grup band yang saya maksud itu adalah Kertas Band. Miris rasanya hati ini, setelah membaca postingan di salah satu milis musik Indonesia beberapa waktu lalu mengenai tragedi yang menimpa grup band asal Palembang ini.

Kertas Band yang terkenal dengan hits-nya Kekasih Yang Tak Dianggap (KYTD), mungkin dari sebagian kita mungkin belum mengenalnya tapi di Palembang grup band ini sangat terkenal. Karena terkenalnya inilah, maka band yang digawangi oleh Rizal, Radha, Andit, Endra dan Argha ini akhirnya dilirik oleh salah satu label rekaman dan menjanjikan membuatkan album plus ini itu. Tapiiii ternyata yang terjadi adalah bukanlah pemenuhan janji yang didapat oleh Kertas Band akan tetapi sebaliknya. Mereka ditipu oleh label tersebut. Ironisnya lagi, sudah ditipu sekarang mereka malah dituntut balik.

Bermula karena terlena dengan rekaman album, maka Kertas Band tidak mempelajari kontrak dengan seksama termasuk royalti dan pembagian honor jadinya label itu bisa berkilah bahwa segala sesuatunya sudah diatur di kontrak yang sudah ditandatangani. Fiiiuuuh !!! Akhirnya Kertas Band pun mengganti namanya menjadi Armada Band. Tapi konon kabarnya, karena merasa stress salah satu personelnya memilih kembali ke Palembang. (ironis banget ya)

Mungkin ini bisa jadi awal dari kehancuran para musisi Indonesia (aduh, jangan sampai deh). Di saat musik Indonesia bisa menjadi ‘tuan rumah’ di negerinya sendiri, selalu aja dimanfaatkan. Hal ini bukan hanya terjadi pada musisi daerah yang akan terkenal, akan tetapi juga dengan musisi sudah malang melintang di kancah permusikan. Memang langkah yang sebaiknya kita ambil adalah lebih berhati-hati lagi jika ingin melakukan sesuatu. Label rekaman pun sebaiknya juga jangan terlalu ‘memeras’ para musisinya. Mematikan ideologi mereka demi sebuah trend dan juga angka penjualan album.

Pertama ‘menarik’ band yang sudah kelihatan tenar dan sudah punya fans, kemudian memanfaatkan mereka. Sempat berpikiran juga mungkin lebih baik mereka tetap berada di jalur indie daripada kalau masuk label rekaman seolah-olah dimatikan kreativitas mereka. Langkah ini juga akhirnya diambil oleh PAS Band dan Slank. Mereka memilih jalur indie, karena mungkin sudah ‘trauma’ dengan sebuah label rekaman.

Belum lagi masalah pembajakan yang semakin merajalela dan sulit untuk diberantas. Pemerintah pun terkesan adem ayem aja tuh melihat pembajakan dimana-mana.

Intinya, ayo kita semua saling bahu-membahu untuk tetap mempertahankan eksistensi Musik Indonesia di negeri kita tercinta !
0 Responses

Comment Facebook

Music Playlist


get music on iTunesQuantcast